Ousmane Dembele dan Paul Pogba di timnas Prancis

Pemain andalan dari Barcelona yakni Ousmane Dembele serta Paul Pogba menjadi korban rasisme yang terjadi dalam laga Prancis kontra Rusia akhir Maret yang lalu.

Hal ini menyadarkan jika keamanan dan rasisme masih menjadi dua pokok penting yang utama untuk Asosiasi Sepak bola Rusia jelang perhelatan Piala Dunia 2018 pertengahan tahun ini. Pihak FIFA bahkan didesak untuk segera ikut campur terkait banyaknya laporan mengenai Ousmane Dembele dan Paul Pogba yang dijadikan sasaran rasisme di Stadion Krestovsky di Saint Petersburg.

Dembele merupakan pemain cadangan pada menit ke-72 dan menjadi bagian tim The Bleus yang menang dengan skor 3-1 atas tuan rumah tersebut. Namun, sebelumnya suporter Rusia menyorakkan suara seperti suara monyet ketika pemain muda 20 tahun tersebut memainkan dua sepakan sudut di menit akhir laga.

Sepakannya membawa timnas Prancis menang atas timnas Rusia di Saint Petersburg, yag terdiri dari satu gol Kylian Mbappe dan sepakan bebas dari Paul Pogba.

Di musim ini, rasisme juga dialami oleh pemain Liverpool, yakni Rhian Brewster saat beradu di markas Spartak Moscow. Selain itu, di tahun 2015 lalu, mantan pemain Zenit St Petersburg, Hulk secara tegas mengungkapkan jika pemain ini memang sering menjadi korban rasisme di Rusia.

Di tahun 2014 yang lalu, mantan pemain Anzi Makhachkala, Chris Samba mendapat sanksi larangan dua laga dari pihak Sepakbola Rusia karena aksi rasisme yang diberikan padanya dan dia mengeluarkan reaksi kala berhadapan dengan FC Torpedo.

Nah, jelang Piala Dunia 2018 yang tinggal tiga bulan lagi, pastinya masalah rasis akan menjadi hal yang berpeluang besar terjadi selama event empat tahunan tersebut berlangsung dan akan menjadikan nama Rusia selaku tuan rumah kian terpuruk.

Itu sebabnya, dalam laga pembuka di Piala Dunia 2018 nanti yakni laga Arab Saudi kontra Rusia, aksi rasis yang biasanya dilakukan para suporter Rusia dapat dicegah demi berlangsungnya laga yang suportif dan aman.